Wisata

Riset Mahasiswa Polban dan PHRI Pangandaran Soroti Strategi Penguatan Pasar Wisata

Pangandaran, global aktual – Mahasiswa Politeknik Negeri Bandung (Polban) melaksanakan riset lapangan terkait pasar pariwisata di Pangandaran dengan menggandeng PHRI Pangandaran. Kegiatan ini dilakukan melalui wawancara langsung dengan pelaku industri serta penyebaran kuesioner kepada wisatawan.

Kegiatan penelitian tersebut dilakukan setelah mahasiswa mengantongi surat resmi permohonan izin wawancara dari Polban yang ditujukan kepada PHRI. Surat bernomor 756/PL1/AK.10.08/2026 tertanggal 9 April 2026 itu berisi permohonan izin untuk melakukan wawancara dan pengumpulan data di destinasi wisata Pangandaran.

Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik wisatawan, lama tinggal, hingga pola pengeluaran wisatawan yang berkunjung ke Pangandaran.

Tim peneliti terdiri dari empat mahasiswa Polban, yakni Ilman Muhamad Jamil, Intan Nur Azizah, Muhammad Fahmi Ramadhiaz, dan Salfa Dliya Setiawan. Mereka melakukan riset bersama PHRI Pangandaran yang diwakili Sekretaris BPC, Tushendar, SE.

Kegiatan wawancara berlangsung pada Jumat 10 April 2026 di Sekretariat BPC PHRI Pangandaran dan dan penyebaran kuesioner dilakukan di kawasan destinasi wisata Pangandaran.

Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran komprehensif terkait kondisi pasar wisata Pangandaran sebagai salah satu sektor unggulan daerah.

Dalam wawancara, Tushendar mewakili Ketua BPC PHRI Pangandaran, H Agus Mulyana menegaskan, bahwa pengembangan pariwisata Pangandaran membutuhkan sinergi lintas sektor.

“Yang dibutuhkan Pangandaran hari ini bukan hanya program, tapi orkestrasi. Semua pihak harus bergerak dalam satu arah yang sama,” ujarnya.

Ia juga menilai pemerintah telah memiliki komitmen yang baik, namun pelaksanaan di lapangan masih perlu diperkuat melalui kolaborasi yang konsisten. PHRI, lanjutnya, hadir sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong perbaikan tersebut.

Salah satu isu utama yang disoroti adalah kualitas sumber daya manusia (SDM) pariwisata yang masih perlu ditingkatkan. Selain itu, aspek kenyamanan wisatawan, mulai dari pelayanan, kebersihan, hingga penataan kawasan, dinilai menjadi faktor penting yang harus dibenahi secara bersama.

Menurut Tushendar, keberhasilan destinasi tidak hanya ditentukan oleh keindahan, tetapi juga kemampuan menciptakan pengalaman bagi wisatawan.

“Kalau kita ingin market tumbuh, kita harus mulai berpikir sebagai pencipta pengalaman, bukan sekadar penjual kamar,” tegasnya.

Melalui riset ini, diharapkan muncul rekomendasi konkret yang dapat memperkuat posisi Pangandaran sebagai destinasi unggulan. PHRI pun berharap adanya kolaborasi yang lebih erat, regulasi yang berpihak, serta konsistensi program agar sektor pariwisata terus berkembang dan menjadi tulang punggung ekonomi daerah. (Hrs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *