Gapura Baru Tiga Pekan Roboh, Pemkot Lubuklinggau Ambil Alih Perbaikan dan DPRD Desak Audit Konstruksi
Lubuklinggau, global aktual – Polemik robohnya gapura di kawasan Kenanga II, Kota Lubuklinggau, akhirnya menemui kejelasan. Pemerintah Kota Lubuklinggau secara resmi mengambil alih tanggung jawab perbaikan gapura yang roboh setelah tersenggol mobil pengangkut kerupuk milik Meo Tri Susanto, sehingga sopir truk tersebut dibebaskan dari seluruh beban biaya perbaikan.
Keputusan itu disampaikan Pemerintah Kota Lubuklinggau setelah mencermati kondisi sosial masyarakat serta fakta bahwa gapura tersebut baru rampung dibangun sekitar tiga minggu sebelum insiden terjadi. Langkah ini mendapat apresiasi dari Komisi III DPRD Kota Lubuklinggau, namun diikuti dengan desakan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas pembangunan.
Komisi III DPRD menilai robohnya bangunan yang tergolong baru merupakan persoalan serius yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan perbaikan fisik semata. DPRD menegaskan perlunya audit teknis terhadap perencanaan, konstruksi, dan pengawasan proyek.
“Bangunan yang baru selesai sekitar tiga minggu tapi sudah roboh jelas tidak wajar. Ini harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh, bukan hanya pada gapura ini, tapi juga proyek lain,” tegas perwakilan Komisi III DPRD Kota Lubuklinggau, Jumat (16/01/2026).
Wali Kota Lubuklinggau H. Rachmat Hidayat melalui Plt Kepala Dinas PUPR Kota Lubuklinggau, Asril Asri, menegaskan bahwa pemerintah hadir untuk melindungi masyarakat, khususnya rakyat kecil, dari beban yang tidak semestinya.
“Pemerintah tidak akan membiarkan masyarakat kecil menanggung beban yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara. Perbaikan gapura ini kami ambil alih, dan sopir tidak lagi dibebani,” ujar Asril.
Ia menambahkan bahwa penyelesaian persoalan harus mengedepankan rasa keadilan dan kemanusiaan, bukan pendekatan represif.
“Kejadian ini menjadi pelajaran penting. Penyelesaian masalah harus melalui empati dan musyawarah. Pemerintah memastikan hak masyarakat tetap terlindungi,” katanya.
Pemerintah Kota Lubuklinggau juga memastikan akan melakukan evaluasi teknis terhadap pembangunan gapura tersebut guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
“Kami akan mengevaluasi dari sisi perencanaan, pelaksanaan konstruksi hingga pengawasan. Jika ditemukan kekurangan, akan menjadi bahan perbaikan ke depan,” ujar Kepala Dinas PUPR.
Di sisi lain, Meo Tri Susanto menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak atas insiden tersebut. Ia menegaskan bahwa kejadian itu murni tidak disengaja dan terjadi saat ia menjalankan aktivitas sehari-hari untuk mencari nafkah.
“Saya mohon maaf atas kejadian ini. Tidak ada unsur kesengajaan. Saya hanya ingin bekerja dan menafkahi keluarga. Terima kasih kepada semua pihak yang telah peduli dan membantu,” ucap Meo dengan suara tertahan.
Kepala Desa Sadarkarya, mewakili pemerintah desa tempat Meo berdomisili, turut menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota dan DPRD Lubuklinggau atas langkah cepat dan kebijakan yang dinilai berpihak pada masyarakat kecil.
“Atas nama pemerintah desa dan masyarakat, kami mengucapkan terima kasih atas perhatian dan kebijakan ini. Kami juga mohon maaf apabila kejadian ini menimbulkan kegaduhan,” ujarnya.
Pemerintah Kota Lubuklinggau menegaskan komitmennya untuk menindaklanjuti rekomendasi DPRD serta membenahi tata kelola pembangunan fasilitas umum agar lebih berkualitas, transparan, dan mengutamakan keselamatan publik.
Sementara itu, Komisi III DPRD memastikan akan terus mengawal persoalan ini hingga tuntas agar kejadian serupa tidak kembali merugikan masyarakat kecil. (Ari)

