Wisata

PHRI Pangandaran Dorong Layanan Satu Pintu IPAL untuk Wujudkan Pariwisata Berkelanjutan

PANGANDARAN, globalaktual.my – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Pangandaran mendorong penguatan pengelolaan limbah sebagai bagian penting dalam mewujudkan konsep pariwisata berkelanjutan atau green tourism.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam FGD Green Tourism Pangandaran dengan tema “Peran Strategis PHRI dalam Pengelolaan Limbah Berkelanjutan”. Dalam forum tersebut, PHRI memperkenalkan gagasan Layanan Satu Pintu IPAL sebagai salah satu solusi bagi pelaku usaha pariwisata dalam memenuhi kebutuhan pengelolaan limbah.

Sekretaris BPC PHRI Kabupaten Pangandaran, Tushendar, SE, mengatakan, persoalan pengelolaan limbah tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan instalasi, tetapi juga menyangkut proses perizinan dan pemahaman teknis yang harus dipenuhi oleh pelaku usaha.

“Melalui layanan satu pintu ini, kami ingin membantu pelaku usaha agar lebih mudah mendapatkan pendampingan, baik dalam pengadaan maupun proses perizinan IPAL. Dengan demikian, persoalan birokrasi dan keterbatasan pemahaman teknis dapat diatasi secara lebih efektif,” ujar Tushendar.

Menurutnya, kemitraan dengan konsultan resmi PHRI menjadi salah satu pendekatan yang dapat memberikan kemudahan kepada anggota PHRI. Pendampingan tersebut diharapkan mampu memberikan kepastian mengenai standar teknis lingkungan sekaligus membantu efisiensi waktu dan biaya dalam proses pengadaan maupun perizinan.

“Yang paling penting adalah bagaimana pengelolaan limbah ini memenuhi standar teknis lingkungan. Jangan sampai kegiatan pariwisata berkembang, tetapi persoalan limbah justru menimbulkan dampak terhadap lingkungan,” katanya.

Tushendar menegaskan, pelaku usaha hotel dan restoran memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan sektor pariwisata di Pangandaran. Sebab, aktivitas usaha pariwisata memiliki keterkaitan langsung dengan kebersihan dan kualitas lingkungan destinasi.

Dalam materi FGD, konsep Layanan Satu Pintu IPAL mencakup sejumlah manfaat, di antaranya kemudahan dalam pengadaan dan perizinan, efisiensi waktu dan biaya transaksi, serta kepastian terhadap standar teknis lingkungan.

Layanan tersebut juga diarahkan untuk dapat dimanfaatkan oleh anggota PHRI melalui dukungan konsultasi dan pendampingan. Dengan pola tersebut, pelaku usaha diharapkan tidak berjalan sendiri dalam memenuhi berbagai ketentuan terkait pengelolaan air limbah.

“PHRI ingin mendorong agar anggota tidak hanya memikirkan aspek usaha dan pelayanan kepada wisatawan, tetapi juga memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan. Pengelolaan limbah yang baik merupakan bagian dari keberlanjutan usaha pariwisata itu sendiri,” tutur Tushendar.

Ia menambahkan, penerapan pengelolaan limbah yang baik perlu didukung kolaborasi antara pelaku usaha, PHRI, konsultan serta pemangku kepentingan terkait. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar persoalan teknis maupun administrasi dapat ditangani secara lebih terarah.

FGD Green Tourism Pangandaran diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun sektor pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Dengan penguatan sistem pengelolaan limbah dan penerapan layanan satu pintu IPAL, PHRI Pangandaran mendorong terciptanya industri hotel dan restoran yang lebih tertib dalam pengelolaan lingkungan, sehingga perkembangan pariwisata dapat berjalan seimbang dengan upaya menjaga kelestarian Pangandaran. (Hrs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *