Kajian Ulang Muara Karangtirta Berbuah Hasil, Dam Pemecah Ombak Dibangun Berbelok Lindungi Jembatan Wiradinata
Pangandaran, global aktual – Hasil kajian yang disuarakan Forum Pesisir Pangandaran pada Kamis (29/5/2025) terkait rencana pembangunan muara baru di Karangtirta akhirnya membuahkan hasil. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy menindaklanjuti masukan tersebut dengan mengkaji ulang desain proyek, termasuk posisi dam pemecah ombak di sekitar Jembatan Wiradinata Rangga Jipang yang menjadi akses vital masyarakat pesisir.
Forum Pesisir Pangandaran sebelumnya meminta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy untuk meninjau kembali rencana pembangunan muara baru di Karangtirta.
Permintaan itu didasarkan pada kekhawatiran akan dampak arus laut terhadap struktur jembatan dan kawasan konservasi sungai di sekitar pantai.
Mantan Bupati Pangandaran dua periode, Jeje Wiradinata, saat itu menegaskan bahwa arus deras laut yang tidak terkendali berpotensi menggerus fondasi jembatan.
“Kami menghimbau BBWS atau OPD terkait mengkaji ulang proyek ini. Kami mengusulkan agar anggaran peruntukkannya dialokasikan untuk normalisasi sungai di sekitar pantai,” ujar Jeje kala itu.
Permintaan kajian ulang disampaikan pada 29 Mei 2025, menyusul rencana pembangunan muara baru di kawasan Karangtirta, Kabupaten Pangandaran. Dampak proyek tersebut dinilai akan berpengaruh langsung terhadap kawasan pesisir dan infrastruktur di sekitar Jembatan Wiradinata Rangga Jipang.
Perkembangan terbaru disampaikan salah satu tokoh masyarakat Sukaresik, Anton Sugandi, pada Selasa (20/2/2026), yang menyebut bahwa kekhawatiran terhadap ancaman gelombang laut kini terbukti dapat diminimalisir.
Menurut Jeje, desain awal dam penahan ombak yang direncanakan lurus dengan jembatan berisiko mengarahkan energi gelombang secara langsung ke struktur fondasi. Jika dibiarkan, kondisi itu dikhawatirkan mempercepat abrasi dan melemahkan konstruksi jembatan yang menjadi penghubung utama aktivitas warga pesisir.

Selain aspek keselamatan infrastruktur, pertimbangan lingkungan juga menjadi alasan utama. Kawasan tersebut merupakan bagian dari wilayah konservasi sungai dan ruang terbuka yang menopang ekosistem pesisir.
Dalam prosesnya, sempat terjadi perbedaan pandangan antara mantan bupati Jeje Wiradinata dan Bupati Pangandaran saat ini, Citra Pitriyami. Perbedaan tersebut terlihat saat diminta tanggapan menyangkut desain dam pemecah ombak, no koment.
Jeje mengusulkan agar dam tidak dibangun lurus sejajar dengan Jembatan Wiradinata Rangga Jipang, melainkan dibelokkan ke samping untuk memecah arah datangnya gelombang. Setelah melalui pembahasan dan kesepakatan bersama, desain dam akhirnya diubah mengikuti usulan tersebut.
Hasilnya, dam pemecah ombak kini dibangun dengan posisi berbelok, sehingga ombak besar tidak lagi menghantam jembatan secara langsung.
Menurut Anton Sugandi, perubahan desain tersebut terbukti efektif. Saat air laut pasang, gelombang tidak lagi langsung mengarah ke jembatan seperti yang dikhawatirkan sebelumnya.
“Pemikiran dan analisa Pak Jeje memang jauh ke depan. Sekarang terbukti, ombak besar tidak langsung mengenai jembatan,” ujarnya.
Selain melindungi infrastruktur, kebijakan pengalihan fokus anggaran ke normalisasi sungai turut menyelamatkan wilayah konservasi di sekitar pantai. Langkah tersebut juga berkontribusi pada peningkatan capaian target Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kabupaten Pangandaran yang bernuansa wisata alami.
Dengan kajian ulang dan perubahan desain tersebut, proyek pesisir di Karangtirta kini dinilai lebih adaptif terhadap risiko bencana dan lebih selaras dengan prinsip perlindungan lingkungan serta keberlanjutan kawasan wisata pantai Pangandaran. (Hrs)
