Nusantara

FKIP Unigal Terima 334 Mahasiswa Baru, Penjas Jadi Prodi Paling Diminati

CIAMIS, globalaktual.my – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Galuh (Unigal) Ciamis menerima sebanyak 334 mahasiswa baru pada tahun akademik 2026. Jumlah tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan fakultas lainnya di lingkungan Universitas Galuh.

Hal itu disampaikan Wakil Dekan II FKIP Unigal, Dr.Lilises Youlia Friatin, S.S., M.Pd., BI., saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (16/9/2026). Ia menyampaikan kesan dan pesan kepada mahasiswa baru sekaligus menjelaskan perkembangan minat mahasiswa terhadap sejumlah program studi di FKIP.

Menurut Lilies, FKIP Unigal menaungi tujuh program studi, yakni Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Jasmani, Pendidikan Sejarah, Pendidikan Biologi, Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Matematika dan Pendidikan Akuntansi. Selain itu, FKIP juga berkaitan dengan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) serta Program Pascasarjana Magister Administrasi Pendidikan.

“Di tahun ini kami menerima 334 mahasiswa baru. Itu menjadi angka terbesar di seluruh fakultas yang ada di Universitas Galuh,” ujar Lilies.

Ia mengucapkan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru dan menyampaikan apresiasi karena telah mempercayakan FKIP Unigal sebagai tempat melanjutkan pendidikan tinggi.

Menurutnya, keputusan memilih perguruan tinggi dan program studi merupakan bagian penting dalam menentukan langkah pendidikan sekaligus menjadi batu loncatan untuk menata karier pada masa mendatang.

Lilies berpesan agar mahasiswa baru memiliki tekad kuat untuk belajar. Sebab, keberadaan mereka di perguruan tinggi merupakan amanah dari orang tua dan keluarga yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

“Harus belajar dengan serius, dengan tekad yang kuat dan totalitas. Tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga aktif dalam organisasi,” katanya.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar menjadikan proses pendidikan sebagai bekal untuk mencapai kesuksesan, sekaligus tetap memegang jati diri dan budaya lokal.

Hal tersebut sejalan dengan visi Universitas Galuh sebagai universitas konservasi budaya yang berorientasi global. Sebagai perguruan tinggi yang berada di wilayah Priangan Timur, nilai-nilai budaya Sunda, khususnya budaya Kegaluhan, turut menjadi bagian dalam proses pendidikan.

Menurut Lilies, nilai-nilai Kegaluhan tidak hanya diberikan melalui mata kuliah tertentu, tetapi juga diintegrasikan dalam berbagai mata kuliah di masing-masing program studi.

“Harapannya, profil lulusan Universitas Galuh memiliki karakter yang berbudaya, khususnya budaya Kegaluhan,” ujarnya.

Ia berharap mahasiswa baru FKIP juga memiliki jati diri yang kuat sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan masyarakat Sunda dengan tetap berpijak pada budaya serta kearifan lokal.

Lilies mengungkapkan, Pendidikan Jasmani menjadi salah satu program studi yang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren minat yang tinggi dari mahasiswa baru.

Menurutnya, salah satu faktor yang kemungkinan memengaruhi minat tersebut adalah karakter pembelajaran Pendidikan Jasmani yang lebih banyak memadukan teori dengan praktik di lapangan.

“Kalau Pendidikan Jasmani itu banyak berlatih di lapangan dan fisik, tidak terlalu banyak teori. Mungkin bagi beberapa anak muda Gen Z sekarang lebih ingin tidak terlalu banyak di kelas, tetapi lebih banyak praktik di lapangan,” jelasnya.

Dari sisi prospek lulusan, Pendidikan Jasmani juga tidak hanya diarahkan untuk menjadi guru. Lulusan memiliki peluang untuk berkiprah sebagai pelatih atau coach maupun wasit sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.

Sementara itu, setelah Pendidikan Jasmani, program studi Pendidikan Bahasa Indonesia juga menjadi salah satu pilihan yang banyak diminati mahasiswa baru.

Lilies menyebut, salah satu peluang lulusan Pendidikan Bahasa Indonesia adalah menjadi pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).

“Bahasa Indonesia berpeluang menjadi pengajar BIPA, yaitu Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing. Banyak orang luar negeri yang ingin belajar bahasa Indonesia dan itu membutuhkan tenaga pengajar yang memiliki kompetensi di bidang tersebut,” katanya.

Setelah Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris juga termasuk program studi yang cukup diminati.
Lulusan FKIP Tak Hanya Berorientasi Menjadi Guru.

Lilies menegaskan bahwa profil lulusan FKIP Unigal tidak semata-mata diarahkan untuk menjadi guru. Masing-masing program studi memiliki peluang profesi yang dapat dikembangkan sesuai kompetensi lulusan.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah masih adanya pandangan sebagian masyarakat bahwa kuliah di FKIP identik dengan profesi guru.

Menurut Lilies, kondisi tersebut turut berpengaruh terhadap minat sebagian calon mahasiswa, terutama ketika orang tua masih memandang profesi guru hanya dari sisi status dan penghasilan.

Ia menilai, persepsi tersebut perlu diperluas karena perkembangan dunia pendidikan dan kebutuhan profesi memungkinkan lulusan FKIP mengembangkan karier di berbagai bidang yang sesuai dengan kompetensi masing-masing.

“Memang itu signifikan sekali yang kami rasakan. Ketika orang tua mindset-nya kalau masuk FKIP hanya menjadi guru, itu akan berpengaruh terhadap motivasi anak,” tuturnya.

Karena itu, ia berharap mahasiswa baru tidak membatasi diri hanya pada satu pilihan profesi. Pendidikan di FKIP diharapkan menjadi bekal untuk membangun kompetensi, karakter, kemampuan berorganisasi serta membuka berbagai peluang karier setelah menyelesaikan pendidikan.

Lilies kembali berpesan agar seluruh mahasiswa baru tetap bersemangat, serius menjalani proses pendidikan dan konsisten dengan tujuan awal ketika memilih FKIP Unigal.

“Semoga tetap semangat untuk mahasiswa baru dan tetap lurus pada tujuan semula,” pungkasnya. (AH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *