Aktual

Kekeringan Meluas, BPBD Ciamis Catat 87 Kejadian dan Salurkan 3,5 Juta Liter Air Bersih

CIAMIS, globalaktual.my – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, kewalahan memenuhi permintaan bantuan air bersih seiring meluasnya dampak kekeringan. Keterbatasan armada distribusi membuat sejumlah wilayah terdampak harus mengantre untuk mendapatkan pasokan air bersih.

Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Kabupaten Ciamis, hingga 23 Oktober 2026 tercatat sebanyak 87 kejadian kekeringan yang berdampak pada 24 kecamatan, 87 desa, dan 201 dusun.

Dampak kekeringan tersebut dirasakan oleh 24.126 kepala keluarga atau sebanyak 69.198 jiwa. Kondisi ini membuat kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah meningkat, terutama di kawasan yang belum terjangkau jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) serta daerah dataran tinggi yang sulit mendapatkan pasokan air melalui jaringan perpipaan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ciamis, Ani Supiani, mengatakan permintaan bantuan air bersih dari desa-desa terdampak terus ditangani secara bertahap. Penyaluran dilakukan langsung ke titik-titik yang tercantum dalam surat permohonan agar distribusi lebih efektif dan tepat sasaran.

Menurut Ani, BPBD memprioritaskan wilayah yang baru pertama kali mengajukan permintaan bantuan. Sementara itu, wilayah yang sebelumnya telah beberapa kali menerima pasokan air bersih harus menunggu giliran agar bantuan dapat menjangkau masyarakat yang belum pernah mendapat distribusi.

“Yang pertama mengajukan dan belum pernah menerima bantuan akan kami prioritaskan terlebih dahulu. Sementara wilayah yang sudah sering dibantu dapat ditunda sementara,” ujarnya.

Ani mengungkapkan, antrean permintaan bantuan air bersih sebelumnya mencapai 61 titik. Dari jumlah tersebut, sebanyak 32 titik telah menerima distribusi pada hari sebelumnya, sedangkan delapan titik lainnya dijadwalkan mendapatkan pasokan berikutnya.

Dalam pelaksanaannya, satu mobil tangki dapat melayani beberapa titik distribusi sekaligus. Petugas harus mengatur rute pengiriman secara efisien, bahkan kegiatan distribusi terkadang berlangsung hingga pukul 01.00 WIB dini hari untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Data BPBD Ciamis mencatat, hingga 22 Oktober 2026 total distribusi air bersih dari berbagai pihak telah mencapai 3.518.000 liter dengan 728 tangki. Bantuan tersebut berasal dari BPBD sebanyak 2.260.000 liter, PMI 325.000 liter, BBWS Citanduy 59.000 liter, Kodim 0613 Ciamis 4.000 liter, Polres Ciamis 5.000 liter, S.O.G Ciamis 10.000 liter, MDMC Ciamis 29.000 liter, 234 SC 10.000 liter, serta Bikers Subuhan 25.000 liter.

Dukungan juga datang melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR). Sejumlah pihak yang turut membantu di antaranya BJB Ciamis sebanyak 25.000 liter, Yogya Ciamis 5.000 liter, BRI Ciamis 165.000 liter, Samsat Ciamis 5.000 liter, PDAM Ciamis 476.000 liter, Baznas 85.000 liter, Telkom 5.000 liter, Perhutani 10.000 liter, dan PLN 35.000 liter.

Di sisi lain, kekeringan juga terjadi bersamaan dengan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam periode yang sama, Pusdalops PB BPBD Ciamis mencatat 61 kejadian karhutla di 21 kecamatan, 52 desa, dan 58 dusun, dengan total luas lahan terdampak mencapai 94,0833 hektare.

Rinciannya meliputi 45 hektare hutan atau lahan produksi, 48 hektare lahan milik warga, 0,047 hektare tempat pembuangan akhir (TPA), serta 1,061 hektare tempat pemakaman umum (TPU). Sementara itu, tidak terdapat angka luasan yang dicantumkan untuk kawasan hutan konservasi dalam infografis tersebut.

Ani mengingatkan bahwa kebakaran lahan tidak hanya dapat dipicu oleh pembakaran sampah atau puntung rokok yang dibuang sembarangan, tetapi juga berpotensi terjadi akibat faktor alam, termasuk gesekan bambu saat kondisi vegetasi sangat kering. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas yang berisiko memicu kebakaran.

Untuk mengatasi dampak kekeringan, BPBD berkoordinasi dengan pemerintah desa serta melibatkan relawan dan instansi terkait dalam penyaluran air bersih maupun penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Namun, upaya tersebut masih menghadapi kendala anggaran. Ani menyebut anggaran penanganan kekeringan yang tersedia telah habis. Pemerintah daerah pun mengupayakan pergeseran anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) sesuai kebutuhan agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan.

Durasi kekeringan yang sulit diprediksi turut menjadi tantangan. BPBD selama ini mengacu pada perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tetapi kondisi di lapangan dapat berlangsung lebih lama daripada perkiraan awal.

Ani berharap dukungan berbagai pihak, termasuk pengusaha, perbankan, dan masyarakat yang mampu, dapat membantu memenuhi kebutuhan air bersih warga terdampak.

Di sejumlah wilayah, masyarakat juga mulai berinisiatif mencari solusi jangka panjang, seperti menemukan sumber air alternatif dan membeli pompa air secara mandiri setelah beberapa kali menerima bantuan.

BPBD Ciamis terus berupaya menyalurkan bantuan berdasarkan tingkat kebutuhan dan pemerataan layanan. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan air bersih sekaligus mengurangi risiko bencana selama kondisi kering masih berlangsung. (RIS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *