Ketua DPRD Pangandaran Desak Penanganan Cepat Tumpahan Batu Bara, Praktisi Perikanan Khawatirkan Dampak pada Budidaya Laut
Pangandaran, global aktual – Ketua DPRD Kabupaten Pangandaran, Asep Noordin, mendesak penanganan segera terhadap tumpahan batu bara yang berasal dari tongkang Tugboat Titan 33 yang mengalami insiden di perairan Batu Hiu dan Pantai Cemara. Kondisi tongkang yang dilaporkan miring diduga menyebabkan muatan batu bara tumpah dan menyebar ke kawasan pesisir.
Saat meninjau lokasi, Asep Noordin menyampaikan bahwa hamparan batu bara yang terbawa arus laut sudah terlihat membentang lebih dari satu kilometer di sepanjang pantai. Ia meyakini penyebaran material tersebut berpotensi meluas hingga kawasan destinasi wisata Batu Hiu akibat kuatnya arus laut di wilayah tersebut, Sabtu (20/06/2026).
“Hari ini kami melihat langsung kondisi di lapangan. Batu bara yang terbawa arus sudah menyebar cukup luas dan dikhawatirkan terus meluas jika tidak segera dilakukan penanganan,” ujarnya.
Menurut Asep, pada hari yang sama tim dari Badan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BLHK) Provinsi serta Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) turut melakukan pemantauan untuk mengkaji dampak pencemaran terhadap kualitas perairan dan ekosistem laut di kawasan terdampak.
Ia juga meminta pihak pemilik tongkang bertanggung jawab penuh atas insiden tersebut, termasuk melakukan pengangkatan material batu bara yang tercecer ke darat dan mempercepat upaya penanggulangan agar pencemaran tidak semakin meluas.
Selain itu, DPRD Pangandaran berencana mengirimkan surat kepada Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian Perhubungan guna mendorong investigasi menyeluruh terkait penyebab insiden tersebut. Investigasi itu diharapkan dapat mengungkap kemungkinan adanya kelalaian dalam pengangkutan batu bara maupun aspek kelayakan operasional tongkang.
“Kami berharap dilakukan pengendalian secepat mungkin serta pemulihan ekosistem yang terdampak agar kerusakan lingkungan dapat diminimalkan dan kejadian serupa tidak terulang kembali,” katanya.
Sementara itu, praktisi perikanan Pangandaran yang dikenal sebagai Abah Rangga menilai tumpahan batu bara berpotensi menimbulkan ancaman serius terhadap sektor budidaya perikanan laut di daerah tersebut.
Menurutnya, batu bara mengandung berbagai senyawa berbahaya seperti logam berat, zat asam, dan Poli-Aromatik Hidrokarbon (PAH) yang dapat menurunkan kualitas air, meracuni biota laut, serta memicu pencemaran lingkungan perairan.
Abah Rangga menjelaskan bahwa Pangandaran tidak hanya bergantung pada sektor pariwisata, tetapi juga memiliki sektor budidaya perikanan yang berkembang, termasuk tambak dan hatchery pembibitan udang windu maupun vaname.
“Jika residu batu bara mencemari perairan, para pembudidaya akan menghadapi risiko besar. Kandungan zat berbahaya dapat mengganggu proses budidaya dan berpotensi menyebabkan kegagalan produksi,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pencemaran yang berkepanjangan dapat menurunkan kualitas hasil perikanan tangkap maupun budidaya, sehingga berdampak pada nilai jual produk perikanan Pangandaran di pasaran.
Karena itu, Abah Rangga meminta perusahaan yang bertanggung jawab atas muatan batu bara tersebut segera mengambil langkah konkret untuk membersihkan area terdampak dan memulihkan kondisi lingkungan laut.
Hingga saat ini, pemerintah daerah bersama instansi terkait masih melakukan pemantauan dan pendataan dampak lingkungan akibat tumpahan batu bara tersebut, sembari menunggu hasil investigasi dan uji laboratorium untuk mengetahui tingkat pencemaran yang terjadi di perairan Pangandaran. (Hrs)
