IPAL Dapur MBG Dipertanyakan, Mitra SPPG Soroti Minimnya Sosialisasi dan Pengawasan DLH
CIAMIS, globalaktual.my – Pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) pada dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sorotan.
Pihak mitra SPPG mempertanyakan peran Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dalam memberikan sosialisasi mengenai standar pengelolaan IPAL sekaligus melakukan monitoring terhadap sistem pengolahan limbah di dapur MBG.
Keluhan tersebut muncul setelah adanya informasi dari masyarakat terkait saluran pembuangan yang diduga mengarah ke area persawahan. Informasi itu kemudian ditindaklanjuti dengan pengecekan dan klarifikasi di lokasi, Jumat (03/09/2026).
Pihak mitra menjelaskan, keberadaan IPAL di dapur SPPG pada prinsipnya sudah tersedia. Limbah yang dihasilkan dari aktivitas dapur juga memiliki penanganan tersendiri, mulai dari limbah sisa makanan, sayuran, limbah rumah tangga hingga limbah alat pelindung diri (APD).
Untuk limbah cair, air buangan dari aktivitas dapur terlebih dahulu masuk dalam proses pengolahan. Air yang semula keruh kemudian melewati proses penyaringan atau filtrasi sebelum menjadi hasil akhir pengolahan.
“Dari dapurnya, air limbah diproses kemudian disaring. Hasil akhirnya air yang sudah melalui proses filter,” ungkap pihak mitra.
Namun, menurut pihak mitra, persoalannya bukan hanya mengenai ada atau tidaknya IPAL. Yang menjadi pertanyaan adalah sejauh mana standar pengoperasian dan pengelolaan IPAL tersebut telah disosialisasikan kepada pengelola SPPG oleh dinas terkait.
Mitra juga menilai monitoring secara berkala diperlukan untuk memastikan IPAL benar-benar berfungsi sebagaimana mestinya, termasuk memastikan kualitas air hasil pengolahan dan mekanisme pembuangannya tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan.
Apalagi, adanya informasi mengenai pipa yang mengarah ke area persawahan membutuhkan penjelasan teknis. Mulai dari sumber air limbah, proses pengolahan, kualitas hasil akhir hingga titik pembuangan harus dapat dipastikan secara jelas.
Pihak mitra mengaku belum mengetahui secara pasti mengenai saluran yang mengarah ke persawahan tersebut. Karena itu, diperlukan klarifikasi dari pihak yang bertanggung jawab langsung terhadap pengelolaan IPAL.
Mitra SPPG berharap DLH dapat lebih aktif memberikan pembinaan dan sosialisasi kepada pengelola dapur MBG. Menurutnya, pengelola harus mendapatkan pemahaman yang jelas mengenai standar pengelolaan limbah sejak SPPG mulai beroperasi.
Selain sosialisasi, monitoring lapangan secara rutin dinilai penting sebagai bentuk pengawasan. Dengan demikian, apabila ditemukan kekurangan dalam sistem IPAL, dapat segera dilakukan perbaikan sebelum menimbulkan persoalan lingkungan.
Sorotan terhadap IPAL ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelaksanaan program MBG tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan bergizi bagi penerima manfaat. Aspek sanitasi, kebersihan dapur dan pengelolaan limbah juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan.
Pihak mitra pun mendorong adanya evaluasi bersama antara pengelola SPPG dan DLH untuk memastikan seluruh aspek pengelolaan limbah telah berjalan sesuai ketentuan. (Red)
