Polemik SPPG Ciamis-Sadananya-Mekarjadi Memanas, Gaya Disiplin Kepala Dipersoalkan
CIAMIS, globalaktual.my – Polemik di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ciamis-Sadananya-Mekarjadi kembali mencuat. Persoalan yang awalnya disebut berkaitan dengan dinamika internal dan hubungan dengan mitra, kini berkembang menjadi sorotan terhadap pola kepemimpinan serta cara penerapan disiplin terhadap sejumlah pekerja.
Perwakilan mitra SPPG mengungkapkan, sejumlah persoalan muncul ketika Kepala SPPG Ciamis-Sadananya-Mekarjadi, Deni Maulana Dipraja, menerapkan pola kedisiplinan yang dinilai oleh pihak tertentu terlalu menyerupai pendekatan disiplin militer.
Menurut keterangan perwakilan mitra, disiplin dalam pekerjaan memang diperlukan, terutama menyangkut ketepatan waktu, pelaksanaan tugas dan tanggung jawab. Namun, penerapannya dinilai perlu disesuaikan dengan karakter lingkungan kerja dan latar belakang para pekerja yang merupakan masyarakat sipil.
“Disiplin waktu dan disiplin tugas itu penting. Tetapi cara menerapkannya jangan sampai membuat orang yang bekerja merasa tidak nyaman,” ujar perwakilan mitra dalam keterangannya.
Persoalan tersebut disebut kemudian berdampak pada hubungan antara pimpinan dan sejumlah pekerja. Beberapa pihak disebut merasa keberatan dengan pola komunikasi maupun penerapan disiplin yang dilakukan.
Upaya penyelesaian melalui mediasi pun sempat dilakukan. Namun, menurut perwakilan mitra, proses tersebut belum sepenuhnya meredam persoalan. Bahkan, terdapat pihak yang akhirnya memilih mengundurkan diri dari pekerjaan.
Tak berhenti di situ, persoalan juga disebut berkaitan dengan pemberian teguran atau surat peringatan kepada pekerja. Perwakilan mitra menilai teguran semestinya ditempatkan dalam konteks pembinaan dan pelaksanaan pekerjaan, bukan berkembang menjadi persoalan personal.
Polemik semakin melebar setelah disebut adanya surat yang ditujukan kepada Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Menurut perwakilan mitra, surat tersebut diketahui oleh pihak mitra atau yayasan.
Perwakilan mitra menilai kondisi tersebut seharusnya dapat diselesaikan terlebih dahulu melalui komunikasi dan mediasi internal sehingga tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.
Ia juga menyoroti pentingnya pendekatan yang tepat dalam mengelola sumber daya manusia di lingkungan SPPG. Menurutnya, seorang pimpinan tidak hanya dituntut mampu menjalankan tugas teknis, tetapi juga perlu memiliki kemampuan berkomunikasi dan mengelola hubungan dengan para pekerja.
“Jangan sampai cara menerapkan disiplin justru membuat orang merasa tidak nyaman dan persoalannya semakin melebar,” katanya.
Selain itu, muncul pula persoalan mengenai komunikasi melalui WhatsApp yang disebut berkaitan dengan dinamika internal SPPG. Isi dan konteks pesan tersebut menjadi bagian dari persoalan yang perlu diklarifikasi lebih lanjut oleh pihak-pihak yang terlibat.
Polemik ini kini menyisakan sejumlah pertanyaan, mulai dari bagaimana sebenarnya pola disiplin diterapkan di lingkungan SPPG, apa yang melatarbelakangi munculnya surat kepada BGN.
Namun, berbagai tudingan tersebut masih berdasarkan keterangan perwakilan mitra. Belum terdapat klarifikasi dari Kepala SPPG Ciamis-Sadananya-Mekarjadi, Deni Maulana Dipraja, mengenai tudingan penerapan disiplin dengan gaya militer, persoalan surat, maupun komunikasi WhatsApp yang dipersoalkan.
Keterangan dari pihak yayasan dan BGN juga diperlukan untuk memastikan duduk perkara serta tindak lanjut atas pengaduan yang disebut telah disampaikan.
Dengan demikian, persoalan SPPG Ciamis-Sadananya-Mekarjadi tidak hanya menyangkut dinamika internal, tetapi juga menyentuh aspek tata kelola, hubungan kerja, mekanisme pembinaan, serta komunikasi antara pengelola dan mitra. (RIS)
