Dua Kecamatan di Bima Catat 145 Hari Tanpa Hujan, BMKG Peringatkan Ancaman Kekeringan Ekstrem
BIMA, globalaktual.my – Ancaman kekeringan ekstrem di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kecamatan Belo dan Bolo, Kabupaten Bima, tercatat mengalami hari tanpa hujan (HTH) terpanjang hingga 145 hari per 13 Oktober 2026.
Kondisi tersebut menempatkan kedua kecamatan dalam situasi kekeringan ekstrem di tengah musim kemarau berkepanjangan yang melanda sejumlah wilayah NTB. Ancaman ini juga diperparah oleh fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat yang diprediksi bertahan hingga awal 2027.
Berdasarkan Informasi Iklim Dasarian I Oktober 2026 yang dirilis BMKG Stasiun Klimatologi NTB, curah hujan di sebagian besar wilayah NTB selama periode 1–10 Oktober 2026 berada pada kategori rendah, yakni 0–10 milimeter per dasarian.
Sementara itu, curah hujan tertinggi tercatat di wilayah Lenangguar, Kabupaten Sumbawa, dengan jumlah mencapai 71 milimeter. Adapun sifat hujan di sebagian besar wilayah NTB berada pada kategori bawah normal.
Forecaster on Duty BMKG NTB, Made Budi Setyawan dan Cakra Mahasurya Atmojo Pamungkas, melaporkan bahwa kondisi hari tanpa hujan di NTB secara umum berkisar antara 11–20 hari hingga lebih dari 60 hari.
Dalam peringatan dini kekeringan meteorologis, BMKG menetapkan sembilan kecamatan di Kabupaten Bima dalam kategori Awas. Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Belo, Bolo, Lambitu, Parado, Sanggar, Sape, Soromandi, Tambora, dan Wawo.
Sementara itu, Kecamatan Langgudu masuk kategori Waspada. Untuk wilayah Kota Bima, Kecamatan Raba juga ditetapkan dalam kategori Awas.
Ancaman kekeringan serupa terjadi di Kabupaten Dompu. BMKG menetapkan lima kecamatan di daerah tersebut dalam kategori Awas, yakni Kecamatan Dompu, Kempo, Pajo, Pekat, dan Woja.
Peringatan dini juga berlaku di sejumlah wilayah Kabupaten Sumbawa, Lombok Utara, Lombok Timur, dan Lombok Tengah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman kekeringan meteorologis telah meluas di berbagai daerah di NTB.
BMKG menjelaskan bahwa kondisi musim kemarau di NTB turut dipengaruhi dinamika atmosfer global. Hasil pemantauan menunjukkan indeks ENSO di wilayah Nino 3.4 berada pada kategori El Niño sangat kuat dengan nilai +3,07.
Selain itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada fase positif dengan indeks +0,782 dan diprediksi berpeluang bertahan hingga akhir 2026.
Kombinasi kondisi iklim tersebut meningkatkan potensi berlanjutnya cuaca kering di berbagai wilayah. BMKG juga memprakirakan El Niño dengan kategori sangat kuat masih bertahan hingga awal 2027, sementara sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami kondisi kering.
Untuk periode 11–20 Oktober 2026, peluang terjadinya hujan di sebagian besar wilayah NTB diperkirakan kurang dari 10 persen. Peluang hujan sebesar 10–20 persen hanya terdapat di sebagian kecil wilayah Lombok Barat bagian utara.
Pada periode tersebut, BMKG tidak mengeluarkan peringatan dini curah hujan tinggi.
Menghadapi musim kemarau berkepanjangan, Pemerintah Kabupaten Bima mengharapkan masyarakat menghemat penggunaan air bersih serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.
Imbauan tersebut penting mengingat panjangnya periode tanpa hujan dapat meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air bersih, terutama di wilayah yang mengalami kekeringan ekstrem.
Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi kebakaran hutan, lahan, dan permukiman. Warga diingatkan agar tidak membakar sampah sembarangan serta tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan.
Selain itu, masyarakat di seluruh wilayah NTB diimbau menggunakan air secara bijak untuk mengantisipasi kemungkinan krisis air bersih. Warga juga diharapkan terus memantau informasi resmi BMKG guna mengantisipasi dampak cuaca ekstrem dan mendukung perencanaan aktivitas sehari-hari.
BMKG turut mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan dan memenuhi kebutuhan cairan tubuh selama cuaca panas serta kondisi kering berlangsung.
Dengan semakin panjangnya periode tanpa hujan dan pengaruh El Niño yang kuat, penghematan air, kewaspadaan terhadap kebakaran, serta pemantauan perkembangan cuaca menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak kekeringan di Nusa Tenggara Barat. (nsr.gtva)
