Nasional

Ratusan Benih Lobster di Parigi Mati, Diduga Terdampak Tumpahan Batu Bara dari Tongkang Kandas

Pangandaran, global aktual – Ratusan benih lobster milik pembudidaya di Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, dilaporkan mati setelah insiden tumpahan batu bara yang terjadi akibat kapal tongkang kandas di perairan Sukaresik, Batuhiu. Peristiwa tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak lingkungan yang berpotensi mengganggu aktivitas budidaya dan ekosistem pesisir setempat.

Kematian benih lobster diketahui terjadi pada Jumat (19/6/2026), sekitar dua hari setelah ribuan ton batu bara dilaporkan tercecer ke laut akibat kapal tongkang yang mengalami kecelakaan di perairan Batuhiu.
Pengelola budidaya lobster, Aep Saepudin, mengungkapkan bahwa sebelum insiden tersebut kondisi usaha budidaya yang dikelolanya berjalan normal tanpa kendala berarti. Namun, beberapa hari setelah tongkang kandas dan batu bara menyebar di perairan sekitar, kematian benih mulai terjadi secara massal.

“Sebelum kejadian kondisi budidaya masih normal dan produksi berjalan baik. Tapi dua hari setelah kapal tongkang terdampar, banyak benih yang mati,” ujar Aep, Rabu (24/06/2026).

Menurut Aep, benih yang mati terdiri dari lobster pasir dan lobster mutiara dengan jumlah mencapai sekitar 500 ekor. Kematian tersebut diketahui saat dilakukan pengecekan rutin terhadap benih yang dipelihara.

“Awalnya saya coba hitung di luar lalu dipindahkan ke dalam ruangan. Saat diangkat ternyata sudah mati semua,” katanya.

Akibat kejadian tersebut, Aep memperkirakan mengalami kerugian awal sekitar Rp5 juta. Perhitungan itu didasarkan pada nilai benih lobster yang mencapai sekitar Rp10 ribu per ekor, belum termasuk biaya operasional dan tenaga kerja yang telah dikeluarkan selama proses budidaya.

“Kalau dihitung satu ekor Rp10 ribu, belum lagi biaya karyawan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa sistem budidaya yang digunakan mengandalkan sirkulasi air laut sebagai sumber utama. Namun pasca-insiden tongkang kandas, pengambilan air laut dihentikan sementara guna mengantisipasi kemungkinan adanya pencemaran yang dapat memperburuk kondisi budidaya.

Meski demikian, hingga saat ini lobster berukuran besar yang berada dalam kolam budidaya belum menunjukkan dampak signifikan sebagaimana yang terjadi pada benih lobster.

“Sirkulasi air memang dari laut, tapi setelah kejadian kami belum mengambil air laut lagi. Untuk lobster yang sudah besar sejauh ini tidak terlalu bermasalah,” jelasnya.

Aep menduga kematian benih lobster berkaitan dengan perubahan kondisi lingkungan pasca-tumpahan batu bara. Selain kemungkinan terjadinya pencemaran perairan, faktor cuaca panas yang terjadi pada saat itu juga diduga turut memengaruhi tingkat kelangsungan hidup benih.

“Sebelum kapal tongkang terdampar tidak ada masalah. Setelah kejadian itu banyak yang mati. Kemungkinan ada dampak dari batu bara yang memicu polusi dan saat itu memang terasa sangat panas,” katanya.

Lokasi budidaya lobster yang dikelola Aep berada sangat dekat dengan titik tongkang kandas. Jarak antara lokasi budidaya dan kapal diperkirakan kurang dari 500 meter sehingga dikhawatirkan berpotensi terdampak langsung oleh perubahan kualitas lingkungan perairan.

“Dari tempat budidaya ke kapal tongkang kurang dari 500 meter, dari sini juga masih terlihat,” ungkapnya.

Atas kejadian tersebut, Aep berharap perusahaan yang bertanggung jawab atas insiden tongkang kandas tidak hanya memberikan ganti rugi terhadap kerugian material yang dialami masyarakat pesisir, tetapi juga melakukan langkah konkret untuk memulihkan kondisi lingkungan laut dan ekosistem pesisir yang terdampak. (Hrs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *