Politik

Jeje Wiradinata, Anak Nelayan yang Dua Periode Memimpin Pangandaran hingga Mendapat Mandat Politik Lebih Besar

PANGANDARAN, globalaktual.my – Jeje Wiradinata merupakan sosok yang perjalanan hidupnya berangkat dari keluarga sederhana. Sebagai anak nelayan, Jeje mengaku sejak kecil telah akrab dengan kehidupan masyarakat pesisir dan merasakan langsung kerasnya perjuangan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Berbagai aktivitas nelayan pernah dijalaninya. Mulai dari menjaring ikan, menangkap ikan, nikir, ngarawih dan sejumlah pekerjaan lainnya yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat nelayan.

Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting dalam perjalanan hidup Jeje. Ia memahami bagaimana masyarakat kecil bekerja keras setiap hari untuk mempertahankan kehidupan keluarganya.

Di tengah kehidupan sederhana itu, sang ayah justru memiliki pesan agar Jeje tidak menjadikan profesi nelayan sebagai satu-satunya jalan hidup. Sang ayah mendorong Jeje untuk menempuh pendidikan dan membangun masa depan melalui ilmu pengetahuan.

“Bapak tidak ingin kamu jadi nelayan. Kamu sekolah, kamu jujur, kamu belajar, kamu disiplin,” kenang Jeje.

Sang ayah juga berharap Jeje kelak dapat menjadi seseorang yang mampu memberikan kebanggaan bagi keluarga.
“Bapak bilang, keluarga kita enggak ada yang bisa dibanggakan. Bapak berharap dari kamu bisa membuat kebanggaan keluarga,” tuturnya.

Pesan tersebut kemudian menjadi salah satu pegangan Jeje dalam menjalani kehidupan. Ia terus menempuh pendidikan, membangun pengalaman di tengah masyarakat, hingga akhirnya terjun ke dunia politik.

Pada 1994, Jeje mulai aktif menjadi pengurus PDI dan kemudian dipercaya menduduki posisi sebagai salah satu wakil ketua. Dari perjalanan politik tersebut, kiprahnya terus berkembang hingga akhirnya dipercaya memimpin Kabupaten Pangandaran.

Jeje kemudian dipercaya menjadi Bupati Pangandaran selama dua periode.

Kepercayaan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan politiknya sekaligus menjadi kesempatan untuk menerjemahkan pengalaman hidupnya sebagai masyarakat bawah ke dalam kebijakan pembangunan daerah.

Selama memimpin Pangandaran, pembangunan infrastruktur menjadi salah satu perhatian pemerintah. Jeje menyebut kondisi jalan di Pangandaran telah mencapai sekitar 98 persen dalam kondisi baik.

Menurutnya, pembangunan jalan tidak sekadar berkaitan dengan infrastruktur, tetapi juga menyangkut akses masyarakat terhadap berbagai pelayanan dan kegiatan ekonomi.

Selain pembangunan infrastruktur, pelayanan kesehatan masyarakat juga menjadi perhatian. Jeje menyampaikan bahwa masyarakat Pangandaran mendapatkan dukungan pembiayaan pelayanan kesehatan dari pemerintah.

Sektor pendidikan pun menjadi bagian dari pembangunan yang terus didorong. Bagi Jeje, pendidikan memiliki arti khusus karena sejak kecil dirinya telah mendapatkan pesan dari sang ayah bahwa pendidikan merupakan jalan penting untuk mengubah kehidupan.

Pengembangan sektor pariwisata juga menjadi bagian dari pembangunan Pangandaran. Sebagai daerah yang memiliki potensi wisata besar, sektor tersebut dinilai memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian daerah dan membuka peluang bagi masyarakat.

Jeje menilai pembangunan daerah harus memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Karena itu, pembangunan tidak hanya diarahkan pada sektor fisik, tetapi juga pada pelayanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan serta pengembangan potensi ekonomi daerah.

Perjalanan politik Jeje kembali memasuki babak baru ketika dirinya menerima telepon pada suatu malam yang berisi permintaan agar dirinya maju sebagai calon gubernur.

Jeje mengaku terkejut menerima kabar tersebut. Ia merasa dirinya hanyalah seorang politisi yang berasal dari daerah dan tumbuh dari lingkungan masyarakat biasa.

“Tentu kaget. Yang tahu diri saya kan saya, politisi kampung, orang kampung. Saya ini orang kecil,” kata Jeje.

Namun, pengalaman dua periode memimpin Pangandaran membuat dirinya memahami bahwa jabatan politik pada dasarnya merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Karena itu, ketika mendapatkan penugasan dari partai, Jeje menyatakan siap menjalankannya.

“Saya kira sebagai kader, sebagai orang yang ditugaskan, tentu ketika diperintah ya harus siap,” ujarnya.

Perjalanan Jeje dari anak nelayan hingga menjadi Bupati Pangandaran dua periode menjadi bagian penting dari kisah hidupnya.

Ia tumbuh dari keluarga sederhana, mendapatkan pendidikan dan nasihat dari orang tua, kemudian membangun karier politik dari tingkat organisasi hingga dipercaya memimpin daerah.

Pengalaman sebagai anak nelayan juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari cara Jeje melihat kehidupan masyarakat. Ia pernah berada pada posisi masyarakat kecil yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, sebelum akhirnya berada di posisi yang memiliki kewenangan untuk mengambil kebijakan.

Jeje pun menggambarkan dirinya sebagai “politisi kampung”. Sebutan tersebut mencerminkan latar belakang dan perjalanan politiknya yang tumbuh dari lingkungan masyarakat daerah.

Kini, setelah dua periode memimpin Pangandaran, dirinya menghadapi babak baru dalam perjalanan politik. Mandat untuk maju ke tingkat yang lebih tinggi menjadi tantangan sekaligus kepercayaan baru yang harus dijawab dengan kesiapan.

Bagi Jeje, semua perjalanan tersebut tidak datang secara tiba-tiba. Ada proses panjang yang dimulai dari kehidupan sebagai anak nelayan, pesan seorang ayah tentang pentingnya pendidikan, kejujuran dan kedisiplinan, perjalanan sebagai kader politik, hingga akhirnya dipercaya menjadi pemimpin Kabupaten Pangandaran selama dua periode.

Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa latar belakang sederhana bukan menjadi penghalang untuk mengabdi. Justru pengalaman hidup sebagai bagian dari masyarakat kecil dapat menjadi bekal dalam memahami persoalan rakyat dan menjalankan kepemimpinan dengan lebih dekat kepada masyarakat.

Penulis: A. Haris

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *