Nusantara

Deni Maulana Buka Suara soal Polemik SPPG Mekarjadi: Bantah Pecat Relawan dan Ungkap Ancaman

CIAMIS, globalaktual.my – Polemik di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mekarjadi, Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis, kembali bergulir. Kali ini, Kepala SPPG Mekarjadi-Sadananya, Deni Maulana Dipraja, angkat bicara dan memberikan klarifikasi atas sejumlah tudingan yang menurutnya mengarah kepada dirinya, Kamis (24/09/2026).

Deni menegaskan, dirinya masih aktif menjabat sebagai Kepala SPPG Mekarjadi-Sadananya. Ia menyayangkan adanya informasi yang menurutnya menggambarkan gaya kepemimpinannya sebagai persoalan, termasuk tudingan adanya relawan yang keluar akibat tindakan atau hukuman yang diberlakukannya.

“Yang pertama, atas dasar apa dan mana buktinya gaya kepemimpinan saya dinilai tidak baik?” kata Deni dalam keterangannya.

Menurut Deni, selama sekitar sembilan bulan pertama menjabat, sejak 19 Agustus 2025 hingga Maret 2026, dirinya justru mengedepankan pendekatan yang lembut dalam memimpin.

Ia membantah menggunakan kekerasan maupun hukuman sebagai pola utama kepemimpinannya.

“Gaya kepemimpinan saya selama sembilan bulan adalah lemah lembut. Tidak ada kekerasan, tidak ada hukuman. Saya dapat buktikan dengan data dan faktanya,” ujarnya.

Deni juga membantah jika dirinya disebut memiliki kewenangan untuk memberhentikan relawan secara sepihak.

Ia menjelaskan, Kepala SPPG menurutnya tidak memiliki kewenangan langsung untuk memberhentikan relawan. Keputusan tersebut berada pada pihak mitra atau yayasan melalui mekanisme yang berlaku.

“Relawan hanya bisa diberhentikan oleh pihak mitra ataupun yayasan. Itu juga memang atas persetujuan saya. Kalau saya tidak setuju untuk dikeluarkan, maka saya tidak bisa mengamini pemberhentian tersebut,” katanya.

Deni kemudian mempertanyakan tudingan bahwa ada relawan yang keluar akibat gaya kepemimpinannya.

Ia menyebut selama dirinya menjabat terdapat dua orang yang berkaitan dengan proses pemberhentian. Namun, menurut Deni, keputusan akhir bukan berada di tangannya.

Deni tidak menampik bahwa dirinya kemudian mengubah pola kepemimpinan menjadi lebih tegas.

Perubahan itu, menurutnya, terjadi setelah adanya penilaian dari pihak perwakilan yayasan atau mitra yang menganggap dirinya terlalu lemah dalam memimpin SPPG.

Deni mengaku pernah beberapa kali ditanya mengenai tindak lanjut kepemimpinannya, termasuk kemungkinan pergantian kepala SPPG.

“Beliau membawa ranah sampai menyebut tiga kali kepada saya, bagaimana tindak lanjutnya, apakah mau diganti kepala atau tidak. Itu sudah terjadi tiga kali, saya ada buktinya,” ungkapnya.

Ia juga mengaku mendapat penilaian bahwa dirinya tidak cukup tegas dalam mengambil keputusan.

“Beliau menyebutkan bahwa SPPG yang memimpin Mekarjadi adalah orang lemah, tidak punya ketegasan dan memang tidak bisa mengambil keputusan,” kata Deni.

Penilaian tersebut kemudian menjadi alasan bagi Deni untuk mengubah pola kepemimpinannya.

Namun, ia menegaskan bahwa ketegasan tidak serta-merta berarti memberikan hukuman.

“Ketegasan saya dalam berbicara dulu. Masih tidak mempan juga, baru karena hukuman yang sifatnya masih formal dan normal, seperti squat jump, bending ataupun push up,” jelasnya.

Deni selanjutnya mengungkap adanya dua orang yang menurutnya memang berkaitan dengan pemberhentian selama dirinya menjabat.

Satu di antaranya disebut memiliki hubungan keluarga dengan pihak mitra. Sementara satu lainnya berkaitan dengan dugaan persoalan hubungan pribadi atau perselingkuhan di lingkungan SPPG.

Deni menegaskan, dalam persoalan kedua, dirinya tidak mengambil keputusan pemberhentian secara sepihak.

Ia mengaku hanya memberikan rekomendasi kepada yayasan karena ingin menjaga nama baik BGN dan SPPG Mekarjadi-Sadananya.

“Karena isu perselingkuhan itu saya tidak ingin mencemari nama baik BGN, khususnya SPPG Mekarjadi-Sadananya. Maka saya merekomendasikan pemberhentian kepada yayasan,” ujarnya.

Menurut Deni, keputusan pemberhentian dilakukan oleh pihak yayasan dan terdapat dokumen yang ditandatangani oleh perwakilan yayasan serta dirinya sebagai kepala SPPG.

Di tengah polemik tersebut, Deni juga mengungkap bahwa dirinya mengaku pernah mendapat ancaman untuk berkelahi dari seseorang yang identitasnya tidak disebutkan.

Ia tidak mengungkap secara terbuka siapa pihak yang dimaksud. Deni hanya menyebut orang tersebut memiliki kekuasaan dan menduga terdapat kemungkinan motif tertentu di balik persoalan tersebut.

“Saya mendapatkan ancaman kembali, yaitu untuk berkelahi, oleh orang yang tidak akan saya sebut namanya. Beliau punya kekuasaan dan mungkin bisa juga ada motif di balik ini,” katanya.

Deni menyatakan memiliki sejumlah bukti yang menurutnya dapat mendukung keterangannya, termasuk terkait komunikasi mengenai kepemimpinan maupun dokumen proses pemberhentian.  (RIS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *