Agun Gunanjar: Partisipasi Pemilih dan Pendidikan Pancasila Penting untuk Masa Depan Demokrasi
Hal itu disampaikan Agun saat kegiatan reses di Hotel Tyiara, Kabupaten Ciamis, Senin (26/10/2026). Ia mengingatkan bahwa keputusan masyarakat untuk menggunakan hak pilih memiliki konsekuensi terhadap kehidupan mereka sendiri maupun masa depan generasi berikutnya.
Menurut Agun, masyarakat perlu menyadari bahwa pemilu bukan sekadar kegiatan rutin untuk memilih pemimpin, melainkan kesempatan untuk menentukan arah pemerintahan dan perbaikan pelayanan publik.
“Kalau Anda tidak memilih, Anda juga tidak bertanggung jawab. Sesungguhnya, Anda menciptakan ketidakpastian, bahkan mungkin keburukan untuk kehidupan Anda lima tahun ke depan,” ujar Agun dalam kegiatan tersebut.
Ia menjelaskan, pemilih perlu mempertimbangkan kompetensi, kapasitas, kapabilitas, dan integritas calon yang akan dipilih. Dengan demikian, keputusan politik yang diambil diharapkan dapat mendorong perubahan ke arah yang lebih baik.
Agun juga mengingatkan bahwa sikap tidak menggunakan hak pilih dapat berdampak lebih luas karena masyarakat turut menentukan kondisi yang akan diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Selain partisipasi pemilih, Agun menyoroti pentingnya pendidikan Pancasila dan demokrasi, terutama di lingkungan sekolah. Ia menilai pemahaman generasi muda mengenai dasar negara dan sejarah kebangsaan perlu terus diperkuat.
Ia menyinggung masih adanya anak-anak yang belum memahami Pancasila maupun momentum sejarah, seperti tanggal 1 Juni dan 22 Juni. Menurutnya, penguatan pendidikan tersebut perlu menjadi perhatian dalam sistem kurikulum pendidikan.
Agun menyebut, melalui Komisi X DPR RI, dorongan untuk mengembalikan penguatan pendidikan Pancasila dan demokrasi dalam pembelajaran juga menjadi bagian dari perhatian yang perlu ditindaklanjuti.
Di sisi lain, Agun menilai perkembangan media sosial telah mengubah ruang publik, termasuk cara masyarakat memperoleh informasi dan mengikuti perkembangan politik. Fenomena banyaknya orang yang berlomba menjadi konten kreator, menurutnya, merupakan bagian dari perubahan ruang komunikasi masyarakat.
Karena itu, ia memanfaatkan sejumlah platform media sosial, seperti Facebook, Instagram, dan TikTok, untuk memberikan akses informasi kepada masyarakat mengenai dirinya dan aktivitasnya.
Meski demikian, Agun menegaskan bahwa media sosial bukan strategi utama yang digunakannya untuk memperoleh dukungan politik. Ia mengaku lebih memilih bertemu langsung dengan masyarakat, sementara media sosial dimanfaatkan sebagai sarana bagi publik untuk mencari informasi dan menilai rekam jejaknya.
“Bapak lebih memilih ketemu langsung, tapi media sosial sebagai sarana untuk orang mengecek,” ungkapnya.
Melalui kegiatan reses tersebut, Agun menekankan pentingnya kesadaran politik masyarakat, pendidikan demokrasi sejak dini, serta pemanfaatan media sosial secara tepat. Ketiga hal itu dinilai menjadi bagian penting dalam mendorong masyarakat lebih kritis dan bertanggung jawab dalam menentukan pilihan politik demi masa depan pemerintahan dan pelayanan publik yang lebih baik. (RIS)
