Opini

Krisis Air Bersih Melanda Kecamatan Pekat, Kerusakan Hutan Tambora Disorot

DOMPU, globalaktual.my – Krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), semakin memprihatinkan. Memasuki fase kemarau yang kian berat, warga, khususnya di Desa Tambora, harus menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih akibat sumur mengering dan debit sumber air yang terus menyusut.

Berdasarkan hasil penelusuran Media Globalaktual.my di lapangan pada Jumat (30/10/2026), kondisi kekeringan terlihat dari sumur-sumur warga yang mulai mengering, tanah yang mengalami retakan, serta berkurangnya ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan faktor musim kemarau, tetapi juga memunculkan perhatian terhadap kondisi lingkungan dan kawasan hutan di sekitar Gunung Tambora. Berkurangnya tutupan hutan diduga turut memengaruhi kemampuan kawasan tersebut dalam menyerap dan menyimpan air hujan.

Hutan yang seharusnya berfungsi sebagai daerah tangkapan air dinilai mengalami tekanan akibat aktivitas penebangan pohon. Hilangnya vegetasi dan pepohonan besar berpotensi mengurangi daya serap tanah terhadap air hujan, sehingga cadangan air tanah semakin rentan berkurang ketika musim kemarau tiba.

Sorotan juga mengarah pada dugaan praktik penebangan kayu yang tidak sesuai dengan peruntukan perizinan. Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius adalah penerbitan Surat Izin Olah Kayu Kebun yang disebut telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Dalam pelaksanaannya, muncul dugaan adanya ketidaksesuaian antara dokumen perizinan dengan kondisi di lapangan. Izin yang secara administratif diperuntukkan bagi pengolahan kayu kebun milik masyarakat diduga berpotensi disalahgunakan untuk mengambil kayu bernilai ekonomi tinggi dari kawasan hutan penyangga maupun kawasan hutan lindung.

Dugaan tersebut perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan dan evaluasi menyeluruh oleh instansi berwenang guna memastikan legalitas kegiatan penebangan serta mencegah kerusakan lingkungan yang lebih luas.

Di tengah kondisi sulit yang dihadapi masyarakat, kepedulian terhadap warga ditunjukkan oleh prajurit TNI dari Brigif Denma TP 31/PS. Mereka turun langsung membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di Kecamatan Pekat, khususnya Desa Tambora.

Dengan menggunakan sarana distribusi air, para prajurit menyalurkan air bersih dari rumah ke rumah warga. Upaya tersebut dilakukan untuk membantu masyarakat yang kesulitan memperoleh air akibat menurunnya ketersediaan sumber air selama musim kemarau.

Kehadiran prajurit TNI tersebut menjadi bentuk kepedulian kemanusiaan sekaligus memperlihatkan pentingnya sinergi antara aparat dan masyarakat dalam menghadapi persoalan sosial di wilayah terdampak kekeringan.

Namun, bantuan distribusi air bersih dinilai belum cukup untuk menyelesaikan persoalan secara permanen. Pemerintah daerah, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat perlu mengambil langkah konkret melalui penanganan krisis air sekaligus pemulihan kawasan hutan yang menjadi sumber penyangga kehidupan masyarakat.

Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Hutan Lindung Gunung Kadindi. Kawasan tersebut perlu mendapatkan perlindungan dan pengawasan ketat karena memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan serta ketersediaan sumber daya air bagi wilayah sekitarnya.

Selain itu, evaluasi terhadap kebijakan perizinan kehutanan dinilai mendesak dilakukan, termasuk menelusuri penerbitan Surat Izin Olah Kayu Kebun yang selama ini menjadi sorotan. Apabila ditemukan pelanggaran atau penyalahgunaan izin, pemerintah dan aparat penegak hukum harus mengambil tindakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Hal ini sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945 yang menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Karena itu, pemerintah diminta tidak hanya berfokus pada penanganan darurat kekeringan, tetapi juga menyusun kebijakan jangka panjang melalui rehabilitasi hutan, pengawasan aktivitas penebangan, perlindungan kawasan hutan lindung, serta penyediaan sarana air bersih yang berkelanjutan.

Redaksi Media Globalaktual.my menegaskan akan terus mengawal persoalan krisis air bersih dan dugaan kerusakan lingkungan di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Persoalan ini membutuhkan perhatian serius seluruh pemangku kepentingan agar masyarakat tidak terus-menerus menjadi korban dari kerusakan lingkungan.

Tambora bukan sekadar kawasan gunung yang menyimpan sejarah besar, melainkan juga ruang hidup bagi masyarakat dan ekosistem yang harus dijaga keberlangsungannya.

Jangan sampai kekeringan hari ini menjadi warisan penderitaan bagi generasi mendatang. Saatnya menghentikan kerusakan hutan, memperkuat pengawasan, dan memulihkan alam demi menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat serta masa depan anak cucu.  (nsr.gtva)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *