Rehabilitasi SLB Taman Raflesia Cikoneng Tingkatkan Kenyamanan Belajar Siswa Berkebutuhan Khusus
CIAMIS, globalaktual.my – Program rehabilitasi atau refit fasilitas di Sekolah Luar Biasa (SLB) Taman Raflesia, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, mendapat sambutan positif dari pihak sekolah. Perbaikan fasilitas dinilai dapat meningkatkan kenyamanan proses belajar dan mengajar bagi siswa berkebutuhan khusus.
Kepala SLB Taman Raflesia Cikoneng, Neli Herlina, S.Pd., MM, mengatakan, setelah mendapatkan program refit, berbagai fasilitas sekolah menjadi lebih layak digunakan untuk menunjang kegiatan pendidikan.
“Dengan adanya refit ini, insya Allah untuk belajar, mengajar dan sebagainya menjadi lebih nyaman. Fasilitas juga lebih baik,” ujar Neli.
Menurutnya, proses pengajuan rehabilitasi berawal dari pendataan kondisi sarana dan prasarana sekolah melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Tingkat kerusakan bangunan yang tercatat dalam Dapodik menjadi salah satu dasar dalam proses pengajuan.
Neli menjelaskan, kondisi bangunan dan kebutuhan fasilitas sekolah kemudian menjadi bahan pertimbangan dalam proses verifikasi. Setelah data diajukan melalui sistem, terdapat proses pemeriksaan untuk memastikan kondisi kerusakan yang dilaporkan sesuai dengan keadaan di lapangan.
“Pengajuannya melalui Dapodik. Tingkat kerusakan dimasukkan di Dapodik, kemudian ada proses verifikasi untuk memastikan kondisi kerusakannya,” jelasnya.
Ia berharap perbaikan yang telah dilakukan dapat memberikan dampak positif terhadap aktivitas pendidikan di SLB Taman Raflesia, termasuk memberikan ruang yang lebih nyaman bagi siswa dalam mengikuti pembelajaran maupun kegiatan keterampilan.
Saat ini, SLB Taman Raflesia Cikoneng memiliki sekitar 60 siswa dengan beragam kebutuhan khusus. Sementara tenaga pendidik dan pengajar yang mendukung kegiatan sekolah berjumlah sekitar 16 orang, termasuk guru keterampilan dan guru mata pelajaran bahasa Inggris.
Neli menuturkan, kegiatan pendidikan di sekolah tidak hanya berorientasi pada pembelajaran akademik, tetapi juga diarahkan pada pengembangan keterampilan dan kemandirian siswa.
Salah satu kegiatan yang dikembangkan adalah bidang pertanian. Untuk mendukung program tersebut, sekolah juga memiliki tenaga pendidik dengan latar belakang pendidikan yang sesuai, sehingga siswa dapat memperoleh pembelajaran keterampilan secara lebih terarah.
“Anak-anak juga diarahkan pada keterampilan, salah satunya pertanian. Guru yang membimbing juga memiliki latar belakang pendidikan di bidang pertanian,” katanya.
Dengan adanya peningkatan fasilitas melalui program refit, pihak sekolah berharap siswa semakin antusias mengikuti kegiatan pembelajaran dan keterampilan. Perbaikan sarana tersebut juga diharapkan dapat mendukung sekolah dalam memberikan pelayanan pendidikan yang lebih optimal bagi seluruh siswa berkebutuhan khusus.
Neli menegaskan, dukungan terhadap fasilitas pendidikan sangat penting karena lingkungan belajar yang layak menjadi salah satu faktor dalam menunjang proses pendidikan, khususnya bagi siswa SLB yang membutuhkan fasilitas sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing. (De-Ir)
