Di Tengah Polemik Rantai Pasok SPPG, H. Yayat Pilih Perkuat Sedekah dan Kepedulian Lingkungan
PANGANDARAN, globalaktual.my – Di tengah polemik yang berkembang terkait rantai pasok dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Mitra SPPG Sindangwangi, H. Yayat Candrahayat, memilih tidak larut dalam polemik. Ia justru mengarahkan perhatian pada kegiatan sosial, pembangunan tempat ibadah dan upaya pengelolaan lingkungan di sekitar SPPG.
Pilihan tersebut menjadi bagian dari aktivitas H. Yayat dalam menjalankan peran sebagai mitra SPPG Sindangwangi. Sejumlah bantuan disalurkan untuk pembangunan masjid, baik di lingkungan sekitar Sindangwangi maupun di wilayah lainnya.
Salah satu yang mendapat perhatian adalah pembangunan masjid di Dusun Karanghonje. H. Yayat disebut beberapa kali memberikan bantuan untuk mendukung proses pembangunan rumah ibadah tersebut.

Bahkan, ketika pagar permanen SPPG Sindangwangi hampir selesai, pagar sementara yang terbuat dari material BRC juga direncanakan tidak lagi digunakan untuk kepentingan SPPG. Pagar tersebut rencananya akan disumbangkan kepada masjid yang masih membutuhkan sarana pendukung pembangunan.
Pagar permanen SPPG saat ini disebut tinggal menyelesaikan pemasangan rolling door. Pekerjaan tersebut direncanakan dilakukan ketika aktivitas MBG sedang libur.
Bagi H. Yayat Candrahayat kegiatan sosial yang dilakukan bukan semata-mata untuk mendapatkan pengakuan atau pujian.
Caci maki, ghibah maupun fitnah yang ditujukan kepadanya berusaha disikapi dengan rasa syukur. Namun, ketika persoalan mulai menyentuh nama baik dapur SPPG dan keberlangsungan para relawan yang bekerja di dalamnya, sikap tersebut berubah menjadi perhatian terhadap keberlanjutan usaha dan nasib para pekerja.
Dalam konteks itu, H. Yayat memilih menyerahkan persoalan tersebut kepada Allah dan memohon keadilan agar keberlangsungan dapur tetap terjaga.

Sikap tersebut menggambarkan prinsip yang ingin dikedepankan, yakni kepentingan umat dan keberlangsungan para relawan ditempatkan lebih dahulu dibandingkan kepentingan pribadi.
Bantuan atau sedekah yang diberikan pun tidak selalu diserahkan langsung oleh H. Yayat. Dalam beberapa kesempatan, bantuan justru dititipkan kepada orang lain untuk kemudian disampaikan kepada pihak yang membutuhkan.
Bagi dirinya, keberadaan seseorang di tengah masyarakat seharusnya mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
Prinsip tersebut juga menjadi pesan yang ingin disampaikan melalui berbagai kegiatan sosial yang dilakukan, bahwa kebaikan tidak selalu harus diketahui banyak orang selama manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
Perhatian SPPG Sindangwangi tidak hanya diarahkan pada kegiatan sosial. Aspek lingkungan juga mulai menjadi bagian dari upaya yang sedang dikembangkan.
SPPG Sindangwangi saat ini mencoba membuat tiga tong komposting sebagai bagian dari upaya pengelolaan limbah organik yang dihasilkan dari aktivitas dapur.

Limbah organik terlebih dahulu dicacah sebelum dimasukkan ke dalam tong komposter. Selanjutnya, proses penguraian dibantu dengan penggunaan bakteri EM4 dan molase menggunakan takaran tertentu.
Dalam percobaan tersebut, proses penguraian ditargetkan berlangsung sekitar tiga minggu hingga menghasilkan pupuk kompos berbentuk cair yang kemudian dapat dipanen dan dimanfaatkan.
Meski masih dalam tahap percobaan, langkah ini menjadi upaya SPPG Sindangwangi untuk mencari pola pengelolaan limbah yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Upaya pemanfaatan lingkungan juga dilakukan melalui percobaan menanam sejumlah sayuran, seperti tomat, cabai, terong dan cabai rawit.
Namun, hasil sementara belum sesuai harapan. Tanaman yang dikembangkan belum menghasilkan panen secara optimal.
Kondisi tersebut tidak membuat percobaan dihentikan. Pengelola SPPG Sindangwangi justru berencana melakukan evaluasi untuk mencari penyebab rendahnya hasil panen, sekaligus mempelajari metode yang lebih tepat agar kegiatan penanaman dapat berkembang.

Dengan demikian, aktivitas SPPG Sindangwangi saat ini tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan dalam program MBG. Di tengah dinamika dan polemik yang muncul dalam rantai pasok, terdapat upaya lain yang dikembangkan melalui kegiatan sosial, bantuan pembangunan masjid serta percobaan pengelolaan limbah dan pemanfaatan lahan.
Bagi H. Yayat Candrahayat, berbagai kegiatan tersebut pada akhirnya diarahkan pada satu prinsip, yakni bagaimana keberadaan sebuah kegiatan di tengah masyarakat dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat dan lingkungan. (Hrs)
